Kubuka pintu rumah yang telah usang dimakan usia. Kupandangi seisi rumah yang semakin kotor akan tahi tikus dan sarang laba-laba. Ku tapakkan langkahku menuju sebuah almari kaca. Almari penyimpanan harta benda kenangan dari ayah dan ibuku. Foto keluarga yang dulu indah dan penuh pijar tawa masih terbingkai manis didalam almariku. Pandanganku mulai tergerak ke kiri tepat disebelah foto itu. Album biru muda yang tergores darah pada sampul indahnya. Ku mulai duduk di kursi ayunan favorit ibuku sambil memandangi semua gambar usang.
Memang benar. Foto ini hanya luka yang akan membuatku tertusuk jarum atau bahkan belati yang tajam. Gambar ibuku masih jelas walau hanya sekedar hitam putih. Ayahku, adik dan kakaku, juga pun sama. Gambar cerita lampau yang menyakitkan masih ada nyata bak bukti tabir kelam kehidupan. Bagian belakang album ini tertahtakan goresan pena ayahku. “Kebahagiaan tak usang walau usia mengusang, 1992” begitulah kata-kata beliau. Sesaat memang album ini sama dengan album biasa. Tapi, noda bercak darah pada sampul album ini menjadikannya tak biasa. Aku teringat akan sesuatu jika terus mengenang noda darah merah usang ini.
Rumah ini benar memang rumahku. Tapi itu dulu. Sekarang sudah tak menjadi bagian hidupku. Rumah ini kutinggalkan saat umurku menginjak 9 tahun. Saat hidup keluargaku masih terbesit oleh hutang-hutang yang bejibun. Termasuk hutang dari para kontraktor. Namun, mulai saat itulah perpecahan ekonomi keluargaku menyeret mereka semua ke liang lahat. Hanya aku yang tersisa dari keluargaku.
Siang itu di musim kemarau berkepanjangan. Ketokan pintu rumahku tergedor keras bak pemuda yang demo menuntuk penurunan tarif BBM. Aku yang hanya duduk di kursi tamu cukup diam dan mencoba berteman dengan rasa takut ini. Ibuku berjalan ke arah pintu dengan topangan kayu di lengan kirinya.
“Krreeekkkkkkk…..” pintu pun terbuka.
“Kembalikan uangku Parmi ! Sudah tak bisa tahan kau terus-terusan ngutang ! janji minggu depan apanya !” geretak seorang pria setengah baya yang memakai baju merah bak setan kesurupan siang hari.
“Parmi ! utangmu udah hampir 9 juta pada diriku. Kapan kau lunasi? Minggu depan? Atau nunggu kamu beberapa tahun lagi?” ketus wanita gendut dengan rambut bergelombang setengah badan sambil mendorong ibuku kebelakang hingga terkapar dilantai.
“Ibuu…” teriakku sambil berlari menolongnya.
“Pasti kan ku bayar Pak, Bu. Hanya beri kami waktu dulu. Putri sulungku sedang koma dirumah sakit.” Tegas ibuku pada para bajingan yang tak beradab sama sekali.
Seutas harapan pun punah ketika ayahku mulai keluar dari kamarnya. Bapak setengah baya tadi mengeluarkan surat pernyataan untuk menyita rumah beserta isinya. Pemaksaan penandatangananpun terjadi. Ayahku sempat menolak dan bersikeras tak ingin menandatangani. Apa daya. Ayah terlalu lemah dengan penyakit paru-parunya. Bapak setengah baya tadi pun menembaknya dengan senjata api pada saku kirinya. Ayah tak bisa kuselamatkan. Hanya tersisa ibu dan adikku sekarang yang harus kupikirkan.
Hati ini semakin memanas ketika aku melihat ibuku dianiaya dengan tongkat kayu miliknya oleh bapak biadab itu. Adikku yang masih berumur 6 tahun pergi keluar rumah mencari bantuan. Namun apa daya seorang anak kecil berlari masih kalah dengan sebuah peluru kecil yang ditembakkan dari pistol canggih milik bapak setengah baya itu. Betapa bodohnya aku. Sejenak aku berlari keluar menhampiri adikku. Aku tak bisa melihat air mata dan darah yang terus mengucur dari dadanya. Aku mencoba berteriak minta tolong. Namun sia-sia. Percuma. Adikku terdiam menutup mata di dalam pangkuanku. Sialnya lagi, bapak setengah baya dan wanita gendut itu bergegas masuk mobil mewahnya dan tancap gas cepat. Sedangkan, aku yang masih memeluk adikku di halaman rumah tak bisa melakukan apa-apa. Aku akui, aku kakak yang amat bodoh. Para warga yang terlambat datang sergap mengerumuni rumahku.
Sekarang hanya tinggal aku, ibuku dan kakakku. Pahit getir, hidup yang kami jalani. Penuh debu dan caci yang hanya untuk sesuap nasi. Panas bak teman seharian. Debu bak sodara yang menuntutku bekerja. Ibuku sudah tak bisa bergembira ria karena kondisinya yang semakin memarah. Kakakku yang juga tertidur pulas tak sadarkan diri. Akulah satu-satunya yang harus merelakan kesenangan meja sekolah hanya untuk merawat mereka berdua. Itulah caraku untuk bertahan. Setiap pagi berangkat ke pinggir jalan menawarkan Koran harian. Saat senja menjelang, saat matahari meredup pijarnya, aku pulang kerumah. Tak mesti penghasilanku. Namun lumayan daripada mati tak bertahan. Hidup ini keras.
Keadaan ini tak selumayan dalam bayangan kaliyan. Seminggu setelah perginya ayah dan adik. Rumah ini disita dan sedang dijual. Terpaksa, aku dan ibuku pergi dari hunian itu. Kakakku dipasrahkan pada tetangga yang senantiasa ada untuk membantu. Perih rasanya harus berpecah. Aku dan ibuku tak pernah tau kemana jejak ini akan membawa. Mungkinkah burung dara yang putih itu menuntunku pada kebahagiaan, atau masih tetap angin panas dan debu kota yang ganas membawaku kedalam getirnya hidup.
Singkat kata, kondisi seorang ibu dengan penyakit batuk menahunnya tak bisa beradaptasi dengan kerasnya kota, dinginnya malam, dan panasnya debu kehidupan. Ku geletakkan jasad ibuku di dekat rusuk bambu yang kuselimuti dengan daun kelor padanya.
Ibu pergi sungguh terlalu pagi tak ada yang menemaniku lagi, tak ada yang menjaga diri. Kerapkali ku meratap tangis dikeheningan malam. Lelah, lapar, dan rintihan harapan terus terpancar keras dari mata dan doa. Selalu di caci maki halayak mewah yang sombong. Usiran anjing galak saat ku memulung nasi. Hanya sekedar mengisi kekosongan perut yang terus mengusik. Semua kejamnya hidup mulai kurasakan. Hidup sendiri. Susahnya berteman dengan kehidupan.
Tak lama rasanya tahan dengan keadaan yang tak menentu. Susah. Kejam sekali maha petaka kehidupan. Aku yang masih berumur 9 tahun harus bisa menjadi burung dara. Dia yang bisa terbang dengan bebas diantara ranting. Berteduh pada cemara. Sekaligus menjadi pusat perhatian halayak. Burung dara yang anggun dan memikat. Tak ada yang tak mungkin.
Bersusah payah selama dua tahun pun masih tetap menggembel. Berlunta-lunta di jalanan yang tak pasti apa yang aku lakukan. Kadang ngamen, jual Koran, mulung, ngemis dan semua pekerjaan kotor dan jijik sudah pernah aku tantang. Rakusnya kehidupan ini. Aku yang duduk terdiam diantara tiang penyangga jembatan layang, seakan tak bisa melakukan apa-apa. Bak ayam dalam kerangkai yang siap disembelih. Dimakan. Itulah aku, sampai kapan kehidupan ini berhenti mengerangkaiku. Apa sampai mereka akan memakanku dan kembali ke pelukan ibu. Ayah, ibu dan adik yang tak ku tahu keberadaan mereka disana. Kakak yang tak pernah lagi kudengar kabarnya. Semuanya seakan begitu fatamorgana dan tak begitu jelas. Runyam. Namun, jika aku kalah, matilah aku di kolong jembatan ini.
Ketika aku melihat dinding tiap tiang penyangga jembatan ini. Banyak goresan tangan setan dan tangan dedemit. Tiang yang dulunya mungkin indah, karena tak berada di tempat yang layak. Ya beginilah jadinya. Bagaimana dengan ilustrasi kecaman penggelandang begini. Kadang saja aku berlari-lari pindah tempat jika ada penggerebekan oleh abang-abang Satpol PP. Mata ini mulai tertuju pada lampu lalu lintas. Merah. Saatnya berdiri dan bergegas menawarkan Koran.
Matahari yang sudah tak sanggup menyinar lagi. Bulan yang datang tertutup kabut malam. Sekarang aku harus berpikir kemana aku harus tinggal. Berjalan terus disepanjang rel KA yang tak terpakai dan ditumbuhi semak belukar yang meninggi tak terawat. Tiba-tiba saja tetes hujan mulai membasahi ujung hidungku. Aku harus segera mencari tempat teduh. Hingga akhirnya aku putuskan untuk berteduh dibawah pohon pisang. Hujan semakin deras. Namun percuma jika aku berlari mencari rumah kosong. Dinginnya malam mulai terasa. Gonggongan anjing galak mulai terdengar dari rumah mewah diseberang sungai sana. Badan ini mulai gemetar dan merasakan demam yang luar biasa. Pandangan mulai mengabur. Badan terasa meringan dan tergeletak di pepohonan pisang.
Keesokan hari yang misterius membawaku kembali asing dengan keadaan. Entah siapa yang menculikku semalam. Atau penyulap mana yang menyulapku hingga berada disini. Bangunan penuh dengan ketentraman. Ya itulah yayasan yatim piatu.
“Hei Dik, apa yang kamu lakukan disini?” kaget seorang pria yang muncul tiba-tiba dari belakang kursi ayunan ini dengan tepukan tangan dipundak kiriku. Kurasa aku kenal dengan suaranya. Dialah kakakku yang dahulu sakit keras.
“Gak kok, Cuma liat kondisi rumah ini!”
Air mata ini sempat menetes deras. Kakak yang mengusapnya, semakin membuatku sedih dan memeluknya erat-erat. Tak ingin kehilangan dirinya. Harta satu-satunya sekarang adalah dia. Keluarga yang terpecah tinggalah kita berdua. Kulangkahkan kaki ini keluar dari pintu rumah penuh derita ini bersama pelukan kakak. Kami harus melanjutkan hidup bersama walau di yayasan yatim piatu. Hanya pijar tawa dalam foto yang membawaku mengingat Ayah, Ibu dan adikku. Burung dara itu memang cantik bak pijarnya sang maha surya dipagi hari. Ternyata lilin-lilin kecil kebahagiaan masih tersisa. Tak kan ku biarkan cahayanya mati ditiup angin kembali. Sebuah ungkapan untuk pijarnya lilin malaikat.
PIJARNYA LILIN MALAIKAT
March 14, 2011
Advertisement